Posted by: aakuntoa | October 27, 2008

Paradoks Pembohong

Hidup ini penuh paradoks. Namun, manakah paradoks yang membawa manusia pada kebenaran. Tulisan F Rahardi ini membantu:

Oleh F Rahardi

Mereka mempersembahkan makam untukMu, O, betapa suci dan tinggiNya

Orang-orang Kreta selalu berbohong, binatang jahanam, bermalasan dan tertawa-tawa

Tetapi karyaMu tak pernah mati: Kau akan terus hidup dalam keabadian

Dalam diriMu kami hidup dan bergerak, dan bisa memaknai kehidupan kami.

Itulah terjemahan bebas bait puisi Epimenides dari Knossos, Pulau Kreta, yang hidup pada abad VI SM. Ia menulis bait puisi ini untuk memuja Zeus, Sang Maha Dewa. Pada abad XIX, salah satu baris puisinya diutak-atik orang, kata-katanya diakrobatkan, hingga menjadi premis-premis yang saling bertolak belakang, yang sebelumnya sudah sangat dikenal sebagai Paradoks Pembohong. Hingga sekarang, Epimenides dan baris puisinya seakan-akan menjadi bagian dari Paradoks Pembohong.

Paradoks Pembohong adalah paradoks paling klasik, sekaligus paling terkenal, ciptaan Eubulides dari Miletus, Yunani (abad IV SM). Selain menciptakan Paradoks Pembohong, Eubulides juga membuat enam paradoks lain. Aslinya, pernyataan dalam paradoks pembohong berbunyi: Seorang laki-laki berkata: ”Yang saya katakan sekarang ini sebuah kebohongan.” Pernyataan inilah yang pada abad XIX dihubung-hubungkan dengan bait puisi Epimenides.

Pernyataannya kemudian menjadi: Epimenides orang Kreta itu, mengatakan bahwa semua orang Kreta adalah pembohong. Dari pernyataan ini, dibuat banyak premis. Di antaranya: Kalau Epimenides jujur, maka pernyataannya menjadi salah. Sebab ia juga orang Kreta, dan tidak berbohong. Kalau ia berbohong, maka pernyataannya juga tetap salah sebab semua orang Kreta bisa bukan pembohong. Akrobat kata-kata seperti ini memang hanya bisa dipahami oleh otak cerdas.

Dari etika ke nihilisme

Akrobat kata-kata dalam paradoks menjadi semakin banyak dan rumit. Paradoks Tanduk (paradoks ketujuh Eubulides) berbunyi: Kalau kau tidak kehilangan sesuatu, maka sesuatu itu masih kau miliki. Karena selama ini kau tidak pernah kehilangan tanduk, maka sekarang kau pasti masih bertanduk. Padahal, mana ada manusia bertanduk? Akrobat kata-kata, dalam paradoks, bukan sekadar untuk iseng dan lucu-lucuan. Pengaruh paradoks, dalam banyak disiplin ilmu, sungguh sangat besar.

Sampai sekarang telah terkumpul 123 paradoks. Mulai dari paradoks filsafat 13, logika 7, matematik/statistik 18, fisika 23, kimia 2, geometri 7, tak terhingga 6, kemungkinan 11, teori keputusan 7, referensi diri 13, tersamar 2, dan ekonomi 14. Ini semua berawal dari kultur Yunani, termasuk Minoan dan Kreta. Pulau Kreta sendiri terletak di tenggara jazirah Yunani. Antara Kreta dan daratan Yunani terletak Pulau Minoan, dengan masyarakatnya yang berkultur sangat tinggi.

Epimenides hidup di Kreta, jauh sebelum Sokrates dilahirkan (470 SM). Sayangnya, peradaban Minoan yang sangat tinggi itu pernah hancur ketika terjadi letusan Minoan abad 16 SM. Pulau vulkanis Minoan seluas 60 km2 sebagian besar cerai-berai dan terbang, lebih hebat dari letusan Krakatau tahun 1883. Selain Minoan, peradaban di pantai utara Kreta juga ikut hancur. Letusan dahsyat ini tercatat dalam papirus dan tembok kuil di Mesir Kuno.

Tidak semua paradoks positif. Paradoks memang berperan dalam pengembangan filsafat, dan ilmu etika (pengetahuan tentang baik dan buruk/moral). Tetapi, paradoks juga berpengaruh terhadap lahirnya nihilisme, dan atheisme. Nihilisme pertama kali dipopulerkan oleh Ivan Sergeyevich Turgenev (1818-1883), novelis dan penulis lakon Rusia. Faham ini juga sering diasosiasikan dengan Nietzsche (1844- 1900). Antara 1860-1870, nihilisme menjadi gerakan pemikiran, sekaligus genre sastra di Rusia. Sekarang nihilisme sering dikaitkan dengan terorisme.

Bunga kata dalam retorika

Kita sering mendengar dalam percakapan sehari-hari: ”Ah, caleg (calon legislatif), itu bisanya kan hanya sekadar retorika”. Artinya caleg itu hanya bisa omong besar, hanya bisa pidato yang muluk-muluk, bombastis, penuh dengan bunga-bunga kata, penuh dengan akrobat kata-kata. Tegasnya, Sang Caleg adalah pembohong. Makna retorika seperti ini berkembang agak belakangan dibanding dengan terminologi awal, yang mengartikan retorika sebagai seni menyampaikan gagasan (lisan maupun tulis), secara efektif.

Retorika lahir pada abad VI SM, dua abad sebelum lahirnya paradoks. Bidan lahirnya retorika adalah Sophism, dalam bahasa Yunani sophos atau sophia, berarti bijaksana atau kebijaksanaan. Hingga retorika, pada awalnya lebih banyak menggunakan bentuk persuasi. Bukan narasi, bukan deskripsi, bukan eksposisi, bukan pula argumentasi. Sebab pada awalnya tujuan retorika adalah agar pihak yang diajak berkomunikasi bisa segera memahami apa yang dimaksudkan, tanpa paksaan, tetapi juga tanpa dialog. Hingga efektivitas dan efisiensi diksi, frasa, kalimat menjadi sangat penting.

Secara ilmiah, studi tentang kekuatan bahasa (kata-kata) dilakukan oleh Empedocles (444 SM). Sebab pada abad V SM, retorika dalam bentuk orasi sudah menjadi tren di Yunani. Guru orasi terkenal antara lain Protagoras (481-420 SM), Gorgias (483-376 SM), dan Isocrates (436-338 SM). Pada zaman Romawi, gramer, retorika, dan logika (Trivium), bersama dengan geometri, aritmatika (berhitung), musik, dan astronomi (Quadrivium) menjadi kurikulum wajib di semua sekolah.

Retorika baru menjadi dogmatis dan politis pada zaman keemasan Eropa, sekitar abad pertengahan. Di sinilah akrobat kata-kata menjadi sampah. Kalimat persuasi ditinggalkan. Sebagai gantinya muncul kalimat indoktrinasi, bahkan provokasi. Tradisi perdebatan dalam paradoks memang tidak dikenal dalam retorika. Kalau para politisi kita, sekarang-sekarang ini lebih banyak pidato omong kosong, sebenarnya mereka sedang mengikuti pola retorika politisi, dan pemuka agama Eropa, abad pertengahan.

Akrobat dan kebohongan

Kata akrobat berasal dari bahasa Perancis acrobate, yang merupakan serapan dari kata Yunani akros (ketinggian) dan bat (berjalan). Hingga arti harfiah akrobat, berjalan di ketinggian. Frasa ini terkait dengan olahraga atletik, senam, dan permainan sirkus. Frasa akrobat kata-kata sebenarnya tidak dikenal dalam ilmu bahasa, juga dalam filsafat. Frasa ini pertama kali dilontarkan oleh Nirwan Dewanto, yang berbicara bersama Budi Darma, pada sebuah seminar sastra, dalam rangkaian Festival Seni Surabaya (FSS), di Surabaya, bulan September 2006.

Frasa akrobat kata-kata, meskipun tidak (belum) menjadi idiom baku, tetap bisa menjadi kata kiasan. Makna sebenarnya adalah paradoks, dan retorika, yang bisa bermakna positif, bisa pula negatif. Akrobat kata-kata dalam sastra juga sah-sah saja, dan belakangan ini memang menjadi tren. Tren juga bukan berarti baik atau buruk, tetapi digemari masyarakat. Dalam sastra, berarti pencipta, redaktur, dan pembacanya sedang menyenangi kecenderungan prosa, dan puisi, yang berakrobat kata-kata, baik yang bermutu maupun yang sampah.

Paradoks paling klasik adalah paradoks pembohong (kebohongan). Retorika dalam indoktrinasi, dan provokasi, juga penuh kebohongan. Dua kebohongan ini, juga kebohongan yang lain, sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan fiksi. Apa pun dalihnya, termasuk sebagai kiasan. Apabila seseorang ingin mengaitkan sesuatu yang tidak nyata, dengan kata bohong, maka yang tepat bukan kebohongan, melainkan ”bohong-bohongan”. Ini setara dengan main-mainan, pacar- pacaran, kawin-kawinan, dan kemudian punya anak ”anak- anakan”.

F Rahardi, Penyair, Wartawan

[Kompas Minggu, 26 Oktober 2008]

Advertisements
Posted by: aakuntoa | October 9, 2008

Social Contract, Belief, and Youth

Kuliah Presidensial oleh Profesor Kishore Mahbubani

di Istana Negara, Jakarta, 31 Juli 2008

AA Kunto A: Materi kuliah ini sangat menarik. Nadanya begitu optimistis. Ia percaya akan kebangkitan Asia. Ia juga percaya bahwa Indonesia punya peran penting dalam tersebut. Menyusul Cina, India, Amerika Serikat, dan Jepang, ia menempatkan Indonesia sebagai bakal dari negara-negara ekonomi terbesar di dunia. Mahbubani mendasarkan keyakinannya tersebut pada keberhasilan Indonesia melampaui masa-masa krisis dalam peralihan menuju sistem demokrasi yang sesungguhnya. Tidak ada gelojak yang berarti, dalam catatannya. Transisi yang penuh menurutnya.

Kita kah?

[terima kasih Mbak Tyka dan Mas Sulad, atas terjemahan yang oke ini]

Saya sangat tersanjung, untuk menyapa hadirin yang terhormat ini. Ini adalah sebuah kehormatan yang besar karena saya berasal dari salah satu negara terkecil di dunia, Singapura . Dulu saya tidak menyadari betapa kecilnya Singapura sampai ketika isteri saya dan saya berlibur ke Pulau Samosir di Indonesia. Pulau ini terletak di dalam sebuah danau di atas puncak sebuah gunung berapi, yang disebut Danau Toba. Tetapi, tumbuh dan besar di Singapura sebagai seorang anggota sebuah kelompok minoritas, menyadarkan saya, bahwa saya memiliki satu keuntungan khusus dalam berhubungan dengan semua sudut Asia.

Keluarga saya adalah Hindu Sindhis. Sebagai seorang anak kecil, dulu saya belajar menulis Sindhi yang sama tulisannya dengan tulisan Arab. Saya juga menemukan bahwa nama saya ‘Mahbubani’ berasal dari kata Arab, Mehboob, yang berarti dicintai. Oleh karena itu, ketika saya melakukan perjalanan ke Asia Barat, saya merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Begitu juga, ketika saya melakukan perjalanan ke Asia Selatan, di India dan Pakistan, saya merasa kerasan karena saya dapat mengerti Bahasa Hindi dan Urdu. Sungguh, saya mengerjakan seluruh tulisan saya hanya sambil mendengarkan penyanyi dan pemain film terkenal, Mohamad Rafi. Sama berartinya, melalui teman–teman Cina di Singapura, saya juga membangun sebuah sensitivitas terhadap Asia Timur. Darah India saya juga memampukan saya untuk berhubungan dengan para penganut agama Budha dari masyarakat–masyarakat berdarah Cina, Jepang, dan Korea. Sebagai seorang etnis India, saya juga ingat apa yang dikatakan Presiden Soekarno dulu : “ Di dalam darah setiap insan dari rakyatku, mengalir darah nenek moyang India dan budaya yang kami miliki membaur dengan pengaruh-pengaruh India. Dan tentu saja, saya tumbuh di Asia Tenggara dan belajar Bahasa Melayu ketika saya kanak–kanak.

Inilah latar belakang yang memberi saya semangat untuk menulis tentang cerita terbesar yang akan kita lihat membentang di dunia: kembalinya Asia. Dari tahun 1 sampai tahun 1820, dua negara ekonomi terbesar adalah Cina dan India. Banyak bagian lainnya dari Asia, termasuk Sang Legendaris kerajaan–kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, berkembang makmur bersama Cina dan India. Duaratus tahun terakhir dari dominasi Barat dalam sejarah dunia telah menjadi sebuah penyimpangan yang bersejarah, yang akan berakhir. Oleh karena itu, Goldman Sachs memprediksi bahwa pada tahun 2050, empat negara ekonomi terbesar adalah Cina, India, Amerika Serikat, dan Jepang. Indonesia juga akan termasuk dalam negara–negara ekonomi terbesar di dunia. Laporan Komisi Pertumbuhan yang bernaung dibawah Bank Dunia, sekarang ini, dilaporkan bahwa 13 negara ekonomi telah tumbuh berkembang dengan rata–rata 7% selama lebih dari 25 tahun. Di dalam daftar negara-negara super ini, Indonesia termasuk di dalamnya.

Saya tidak mempunyai keraguan bahwa Indonesia akan menjadi bagian dari transformasi besar di Asia ini. Sungguh, Indonesia telah memainkan peranan yang heroik di dalam transformasi Asia ini. Negara ini telah berhasil membuat salah satu dari transisi tersulit yang harus dibuat oleh masyarakat manapun: transisi kearah demokrasi penuh. Ini adalah suatu cerita yang sangat luar biasa yang belum sepenuhnya dipahami oleh dunia.

Untuk menggambarkan betapa luar biasanya transformasi ini, ijinkan saya memberitahu anda apa yang sebenarnya saya katakan saat berbicara di sebuah forum yang diorganisasi oleh Asia Society di San Francisco pada tanggal 21 Februari 2008. Salah satu dari panelis saya adalah Larry Diamond, ahli demokrasi yang terkenal di dunia. Inilah yang saya katakan kepada mereka. Mercusuar kebebasan dan demokrasi dunia adalah Amerika Serikat. Tetapi dalam tujuh tahun terakhir ini, Amerika telah berjalan mundur dalam area ini. Jika seseorang telah mengatakan kepada saya sepuluh tahun yang lalu bahwa masyarakat maju modern pertama yang akan memperkenalkan kembali tentang siksaan adalah Amerika, saya akan mengatakan “Tidak mungkin”. Tetapi ketidakmungkinan itu telah terjadi. Ms. Irene Khan, Kepala Amnesti Internasional, telah menggambarkan Guantanamos sebagai “sebuah Gulag pada jaman ini”. Dia benar. Sebagai tambahan, dalam sebuah cerita yang belum semuanya diberitahukan, Amerika, benteng kebebasan sipil, juga telah mundur dalam area ini. Banyak dari teman–teman saya yang berasal dari Amerika juga terkejut tetapi mereka berkata kepada saya “Kishore, kamu harus mengerti. Kami secara besar–besaran diserang oleh 9/11”. Benar bahwa Amerika diserang. Tetapi fakta bahwa mercusuar kebebasan dan demokrasi bisa mundur dalam banyak area tentang hak asasi manusia setelah satu serangan menunjukkan betapa rapuhnya komitmen Amerika terhadap beberapa kunci prinsip–prinsip hak–hak asasi manusia.

Secara berbeda, negara kedua yang diserang 9/11 adalah Indonesia. Ini terjadi satu tahun kemudian pada tanggal 12 Oktober 2002 di Bali. Walaupun begitu, Indonesia tidak mundur. Sungguh, meskipun Indonesia mengalami krisis finansial yang merenggut kehidupan pada tahun 1998 dan 1999 yang menyebabkan perekonomian menurun secara signifikan, dan meskipun ia telah mengalami banyak kekacauan sosial dan politik sebagai hasil dari krisis finansial ini, Indonesia terus bergerak maju dalam kemajuannya terhadap demokrasi. Secara luar biasa, kurang dari sepuluh tahun setelah krisis finansial yang sangat besar ini, Freedom House dalam sebuah survey global berjudul “Freedom In The World” (Kebebasan di Dunia) pada tahun 2005 mendeklarasikan bahwa status Indonesia telah berpindah dari “setengah bebas” menjadi “bebas” selama masa pemerintahan Presiden SBY. Presiden SBY layak menerima banyak kepercayaan dari sukses yang luar biasa ini. Inilah sebabnya mengapa dua tokoh dunia, Andrew MacIntyre dan Douglas Ramage, telah mengatakan bahwa Presiden SBY “adalah presiden yang paling mampu, fokus dan internasionalis dibandingkan dengan presiden–presiden lainnya setelah Presiden Soeharto” dan bahwa catatan tentang kepemimpinannya tidak terkalahkan sampai pada dekade berikutnya”. Amerika mungkin juga akan bergerak maju kembali bersama–sama dengan Indonesia saat ia memilih seorang presiden yang ayahnya juga seorang Indonesia.

Ketika saya selesai menggambarkan bagaimana Amerika telah bergerak mundur dan Indonesia telah bergerak maju dalam kebebasan dan demokrasi, saya berharap Larry Diamond akan tidak setuju dengan saya. Tetapi, dia malahan setuju dengan saya. Untuk sepenuhnya memahami betapa luar biasanya transformasi yang dilakukan Indonesia, bayangkanlah, anggota–anggota dari para pemimpin partai di Cina mengadakan diskusi tentang bagaimana Cina sebaiknya membuat transisi terhadap demokrasi. Saya yakin mereka sadar bahwa mereka harus membuat transisi ini. Mereka juga tahu betapa sulitnya hal ini akan terjadi dan bahwa meskipun pendapatan perkapita Cina lebih tinggi daripada Indonesia, Cina belum siap mengambil langkah ke depan dalam demokrasi. Para pemimpin Cina pasti kagum bahwa Indonesia berhasil mengambil langkah ke depan dalam sebuah periode ketidakpastian ekonomi dan politik saat ini.

Tragedi besar di sini adalah bahwa cerita yang luar biasa tentang Indonesia ini belum sepenuhnya tersebar ke seluruh dunia. Hal ini karena media internasional didominasi oleh media Barat, yang tidak bisa membayangkan bahwa Asia dapat melakukan yang lebih baik daripada yang dilakukan Barat dalam banyak area. Inilah mengapa saya memilih untuk menulis buku saya tentang “The New Asian Hemispherea” (Setengah Asia baru) pada poin ini: untuk menyediakan sebuah perspektif non-Barat tentang transformasi besar Asia. Sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di Asia. Sungguh, banyak orang Asia juga tidak sadar akan betapa luar biasanya cerita tentang Asia ini.

Cara terbaik untuk memahami betapa luar biasanya cerita tentang Asia ini, adalah dengan membandingkannya dengan cerita tentang Amerika Latin. Kita semua tahu bahwa benua pertama yang melakukan modernisasi adalah Eropa. Benua kedua yang melakukan modernisasi adalah Amerika Utara. Benua ketiga yang ingin melakukan modernisasi adalah Amerika Latin. Mengapa Amerika Latin? Pada awal abad 20, Amerika Latin dilihat sebagai tanah yang menjanjikan karena banyak alasan. Pertama, sebagian besar elit Amerika Latin berasal dari Eropa. Mereka berbicara dalam bahasa–bahasa Eropa. Oleh karena itu, mereka sepenuhnya berharap meniru keberhasilan Eropa ke dalam Amerika Latin. Sungguh, seorang penulis asal Amerika, David Gallagher (meresensi sebuah buku karangan Michael Reid), menggambarkan Amerika Latin dalam periode itu, sebagai berikut:

Antara tahun 1850 dan 1930, banyak negara–negara Amerika Latin telah maju dengan sukses. Perekonomian mereka relatif terbuka, ekspor berkembang makmur, dan di beberapa negara, demokrasi terlihat kuat. Sampai tahun 1910, satu abad setelah kemerdekaan, Argentina, berdasarkan pada pendapatan per kapita, adalah salah satu dari setengah lusin negara–negara terkaya di dunia. Para imigran dari seluruh bagian Eropa bergerombol pergi ke sana. Chili juga berkembang makmur. Imigran Jerman telah menjajah sebagian besar daerah selatan dan Valparaiso menjadi salah satu dari pelabuhan–pelabuhan termakmur di dunia.

Kita tahu bahwa orang–orang Jerman, Spanyol, dan Italia telah menciptakan ekonomi yang sangat sukses di Eropa. Maka, mengapa para imigran ini gagal di Amerika Latin?

Kegagalan Amerika Latin untuk berkembang walaupun ada keuntungan–keuntungan yang besar selama ratusan tahun yang lalu menjadi sebuah cerita besar. Tetapi ada cerita lainnya yang bahkan lebih menakjubkan tentang kegagalan ekonomi Amerika Latin dalam 25 tahun yang lalu. Alasan mengapa cerita ini menakjubkan adalah bahwa banyak ekonomi Amerika Latin mengadopsi kebijaksanaan–kebijaksanaan ekonomi yang benar dalam periode ini dan bukan yang salah. Walaupun begitu, mereka gagal. Ijinkan saya mengutip tulisan dari sedikit penulis–penulis terkenal yang membuat poin ini.

Mark Weisbrot dan David Rosnick, dua ahli ekonomi asal Amerika, menulis: ”Diantara para pembuat kebijakan dan para ahli ekonomi di Amerika Serikat telah berasumsi bahwa perubahan kebijaksanaan ekonomi yang mulai diimplementasikan di Amerika Latin pada awal 1980-an akan secara berangsur–angsur berbuah, dan memimpin suatu pertumbuhan ekonomi yang kuat. Seperempat abad kemudian, hal ini belum terjadi. Sungguh, kedua penulis ini menulis bahwa dari periode 1980 sampai 1999, ketika Amerika Latin mengimplementasi kebijaksanaan ekonomi yang benar, hasilnya adalah “inilah penampilan pertumbuhan terburuk dalam 20 tahun atau lebih dari satu abad, bahkan meliputi tahun–tahun dari suatu Depresi Besar”.

Izinkan saya menambahkan bahwa catatan Amerika Latin tentang kegagalan ekonomi ini padahal telah mengimplementasi kebijaksanaan ekonomi yang benar, juga telah didokumentasikan oleh Danny Leipziger, seorang staf senior World Bank (Bank Dunia), dan Ricardo Hausmann, seorang professor di Universitas Harvard. Makalah–makalah mereka disebutkan pada catatan kaki di teks yang saya tulis.

Sekarang, izinkan saya melanjutkan ke bagian yang luar biasa dari cerita Asia ini. Satu negara Asia terbesar juga mulai mengimplementasi kebijaksanaan–kebijaksanaan ekonomi yang benar, pada saat yang sama dengan Amerika Latin. Dan ia melakukannya benar–benar di bawah situasi yang sangat tidak menjanjikan. Ia telah mengalami 30 tahun kegagalan di bidang ekonomi yang secara sentralisasi direncanakan oleh komunis. Ia juga telah mendapat suatu pengalaman yang mengecewakan dengan kedua hal ini: Kemajuan Besar (1958 – 1960) dan Revolusi Kebudayaan (1966 – 1976). Setiap pengamat melihat bahwa Amerika Latin dan Cina yang keduanya mengimplementasi kebijaksanaan ekonomi yang benar dalam tahun 1980-an, akan dengan yakin memprediksikan bahwa Amerika Latin akan berhasil dan Cina akan gagal.

Tetapi yang terjadi adalah kebalikannya. Cina tinggal landas dengan cara yang menakjubkan. Ricardo Hausmann mengatakan “cara yang mana pun yang kamu ukur, peristiwa–peristiwa di Cina benar–benar luar biasa. Output Cina yang dihasilkan per satu pekerja tumbuh secara tahunan pada 7.8% dan 2.8% lebih cepat daripada negara kedua (Amerika Latin)”. Dalam periode yang sama, pertumbuhan per kapita di Amerika Latin secara tahunan tumbuh 0.5% dari tahun 1980 sampai 1999 dan secara nyata jatuh 0.2% dalam lima tahun dari tahun 1999 sampai 2004.

Pelajaran besar apakah yang sebaiknya kita ambil dari perbedaan yang dramatis ini, antara pengalaman–pengalaman Amerika Latin dan Cina walaupun keduanya mengimplementasi kebijaksanaan ekonomi yang benar? Pelajaran besarnya adalah bahwa perkembangan ekonomi bukanlah suatu hasil dari kebijaksanaan ekonomi itu sendiri. Hal ini sungguh merupakan kesalahan terbesar yang dibuat oleh konsensus Washington: dalam memimpin rakyat untuk percaya bahwa hanya kebijaksanaan ekonomi yang dapat menunjukkan cara menuju pertumbuhan ekonomi. Kebijaksanaan–kebijaksanaan sosial dan politik secara seimbang memainkan peranan yang penting.

Namun, ketika pembangunan ekonomi mengalami kegagalan, para ahli ekonomi enggan untuk berspekulasi atau menetapkan kebijaksanaan sosial dan politik, yang mana yang bisa menyokong kegagalan ekonomi. Perbedaan besar antara Cina dan Amerika Latin adalah tabiat dari Kontrak Sosial antara para elite pemerintahan dan penduduk yang mereka atur. Ketika Deng Xiaoping mengambil alih kepemimpinan di Cina, satu–satunya tujuan yang ingin dia capai adalah memperkuat Cina. Dia tahu bahwa satu–satunya cara untuk melakukan hal itu adalah melepaskan energi–energi orang Cina. Keuntungan besar Cina adalah bahwa ia telah menghapus kelas–kelas feodal dan mentalitas feodal dengan revolusi komunis. Oleh karena itu, Deng Xiaoping melaksanakan kebijakan dengan tujuan membantu seluruh rakyat Cina, dan bukan hanya membantu satu kelompok elit kecil atau kelompok feodal.

Secara kontras, kerugian utama dari banyak masyarakat Amerika Latin adalah bahwa mereka melanjutkan untuk memiliki elit feodal atau mentalitas feodal. Kelas–kelas pemerintahan lebih tertarik untuk melindungi hak istimewa mereka sendiri, bukan untuk membantu rakyat banyak. Dengan berfokus pada kepentingan–kepentingan dari elit pemerintah, bukan pada kepentingan–kepentingan masyarakat secara keseluruhan, masyarakat Amerika Latin tidak mampu untuk sukses.

Dalam buku saya, saya berbicara tentang tujuh pilar kebijaksanaan Barat, bahwa beberapa masyarakat Asia telah mulai mengimplementasikannya. Tujuh pilar ini menjelaskan keberhasilan masyarakat Asia. Salah satunya adalah ‘meritokrasi’. Cara termudah untuk memahami kebijakan meritokrasi adalah menanyakan pertanyaan ini: ’Mengapa Brazil bisa menjadi super kuat di bidang olahraga dan setengah kuat dalam bidang ekonomi?’ Jawabannya adalah bahwa ketika ia mencari yang berbakat sepakbola, ia mencarinya dalam semua faktor dari penduduk, mulai dari kelas atas sampai kepada kelas bawah. Seorang anak laki–laki gelandangan tidak didiskriminasi apabila ia seorang anak yang berbakat sepakbola’. Tetapi dalam bidang ekonomi Brazil mencari orang yang berbakat dalam basis masyarakat yang jauh lebih kecil, terutama kelas–kelas atas dan menengah.

Asia selalu mempunyai kolam terbesar di dunia yang menampung kekuatan otak. Tetapi ia juga mempunyai kolam terbesar di dunia yang menampung kekuatan otak yang tidak digunakan. Alasan sederhana mengapa Asia sekarang tinggal landas, adalah bahwa kekuatan otak yang dulunya tidak digunakan, akhirnya digunakan. Di dalam buku saya, saya melihat kasus tentang India, yang telah mempunyai sistem kasta selama beribu–ribu tahun. Jika kamu terlahir tak tersentuh (orang–orang di bawah kasta terendah), kamu hidup tanpa sentuhan dan kamu mati tanpa sentuhan. Pada masa sekarang, sebagai hasil dari gerakan–gerakan reformasi, India sedang berubah. Saya menggambarkan kasus tentang seorang laki–laki muda yang dulu lahir tanpa sentuhan, pergi ke sekolah sebagai anak yang tidak bisa disentuh, dan duduk terpisah dari teman–temannya saat jam belajar di kelas dan saat jam makan. Tetapi dia bertingkah laku baik di sekolah, mendapat beasiswa, melanjutkan pendidikannya ke Universitas Columbia di New York untuk meraih gelar PhD di bidang ekonomi. Saat ini, ia menjadi Kepala Ahli Ekonomi di Reserve Bank di India. Namanya: Narendra Jdhav.

Cina dan India berhasil dan dapat tinggal landas karena mereka akhirnya menemukan suatu media yang tepat untuk menyalakan ratusan dari jutaan otak yang selalu mereka miliki. Setelah Cina dan India, kolam terbesar yang menampung kekuatan otak, ada di dalam wilayah negara–negara Asia Tenggara (ASEAN) yang memiliki lebih dari 500 juta penduduk. Keberhasilan ASEAN akan ditentukan oleh apakah kita mengikuti pola Cina dan India dan melepaskan kekuatan otak dari masyarakat yang ada, atau apakah kita mengikuti jalan Amerika Latin yang memelihara kepentingan–kepentingan kelas–kelas elit.

Cara mana yang akan diambil oleh negara–negara ASEAN? Jawaban jujurnya adalah bahwa jawabannya tidak jelas. Salah satu dari perbandingan yang paling sering saya lakukan adalah antara Korea Selatan dan Filipina. Pada tahun 1950an, Filipina dilihat sebagai salah satu dari negara–negara di dunia yang kehidupan ekonominya paling menjanjikan. Filipina memiliki segalanya untuk mewujudkan hal tersebut: sebuah elit yang berpendidikan, dukungan kuat dari Amerika. Secara berbeda, Korea Selatan dilihat sebagai peti keranjang, khususnya setelah ia menderita karena kerusakan–kerusakan akibat Perang Korea dari tahun 1950–1953. Satu fakta penting yang sekarang ini patut saya dapatkan adalah betapa Korea Selatan sangat mengalami kerusakan. Sungguh, ia hampir kehilangan perang itu. Ibukota Korea Selatan, Seoul, telah hancur dalam hitungan hari dan minggu, angkatan bersenjata PBB telah dikirim ke ujung bagian Selatan dari semenanjung Korea.

Oleh karena itu, pada tahun 1960, Pendapatan per kapita Filipina US $6.9 milyar sementara Korea Selatan hanya US $1.5 milyar. Pendapatan per kapita Filipina hampir lima kali lebih besar.

Di tahun 2007, gambaran masing–masing adalah US $144 milyar dan US $969 milyar. Pendapatan per kapita Korea Selatan telah menjadi hampir tujuh kali lebih besar. Apa yang terjadi?. Mengapa Filipina gagal untuk tetap melangkah maju seiring dengan pertumbuhan Korea Selatan?. Jawaban yang benar secara politik adalah bahwa masyarakat Filipina telah memegang teguh mentalitas feodal yang berlanjut ke penganiayaan masyarakat Amerika Latin. Secara berbeda, Korea Selatan sepakat untuk menghapus sebagian besar jejak–jejak mentalitas feodalnya.

Untuk memahami cerita Korea Selatan ini, saya merekomendasi Anda untuk membaca sebuah buku yang ditulis oleh professor terkenal dari Harvard, Profesor Erzra Vogel, yang berjudul ”The Four Little Dragons: The Spread of Industrialization East Asia” (Empat Naga Kecil: Penyebaran Industrialisasi Asia Timur). Beliau melakukan suatu kajian untuk menemukan alasan mengapa Jepang sukses (juga menulis tentang ini dalam bukunya “Japan Is Number One”), mengapa masyarakat Asia yang kemudian juga sukses adalah empat macan Asia: Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura. Karena keempat masyarakat ini sangat berbeda, dia ingin menemukan apakah ada elemen–elemen umum yang dapat menjelaskan kesuksesan mereka.

Satu elemen umum yang dia temukan adalah sebagai berikut : “perhatian terhadap seluruh kelas sosial memimpin para pejabat pemerintahan untuk sensitif terhadap masalah–masalah ketidakseimbangan di dalam proses industrialisasi dan untuk membuat usaha–usaha menyebarkan kesempatan–kesempatan peningkatan pendapatan di seluruh bagian masyarakat”. Apa yang luar biasa di sini adalah, meskipun tak satupun dari negara–negara ini Sosialis dan meskipun pemerintahan di Korea Selatan berada di bawah kepemimpinan Park Chung Hee, Taiwan di bawah kepemimpinan Jiang Jing Guo, Hongkong di bawah pemerintahan kolonial Inggris yang terlihat sebagai sayap kanan bukan sayap kiri, semua pemerintahan ini berfokus pada cara–cara untuk meyakinkan diri bahwa buah–buah dan kesempatan–kesempatan pembangunan yang dibagikan ke seluruh kelas masyarakat, dari puncak sampai dasar, tidak seperti masyarakat Amerika Latin, dimana yang berada di dasar tidak pernah mengalami buah–buah dari pertumbuhan ekonomi yang terjadi di sana. Pada tahun 2007, koefisien Gini untuk Brazil mendekati 0.6 sementara Korea Selatan dan Taiwan koefisien gininya 0.3.

Sangat vital untuk menekankan disini bahwa Jepang, Cina, India dan keempat macan tadi tidak menciptakan prinsip meritrokrasi (yang saya gambarkan sebagai prinsip untuk mencari bakat dalam semua sektor masyarakat). Secara esensial, masyarakat– masyarakat Asia ini menyalin praktek–praktek terbaik dari masyarakat Barat yang telah maju, khususnya Amerika, yang tetap menjadi masyarakat paling meritokratis di dunia. Dua contoh terbaik yang merupakan buah–buah meritokrasi Amerika adalah kedua pembicara yang mendahului saya berbicara dalam seri Kuliah Presidensial ini : Shaukat Aziz dan Bill Gates. Shaukat Aziz tiba di Amerika dengan tanpa latar belakang pendidikan dari universitas Barat. Beliau dididik secara menyeluruh di lembaga pendidikan di Pakistan. Tetapi melalui jasa yang tulus beliau naik sampai pada level tertinggi di Citibank, menjadi bagian dari kelompok tujuh yang menjalankan bank tersebut. Bill Gates sekolah di Harvard tetapi kemudian dikeluarkan (drop out). Walaupun begitu dia menjadi orang terkaya di dunia dengan menciptakan semua industri baru.

Dalam kuliah saya hari ini, saya hanya menekankan pada kebaikan–kebaikan meritokrasi, yang hanya merupakan salah satu dari tujuh pilar kebijaksanaan Barat yang saya diskusikan dalam buku saya. Ijinkan saya secara menyebutkan keenam pilar lainnya tetapi ketika saya melakukannya anda akan menemukan bahwa mereka semua menjadi satu rantai dengan kebaikan meritokrasi.

Pilar pertama adalah ekonomi pasar bebas. Ekonomi pasar bebas tidak hanya meningkatkan produktivitas ekonomi melalui insentif (penghargaan) atas kinerja yang baik. Ekonomi pasar bebas seperti yang saya sampaikan, secara terus–menerus menciptakan elit baru dan menghilangkan elit lama. Sungguh satu fakta kecil yang telah diketahui adalah gambaran dari kebaikan–kebaikan kapitalisme yang diberikan oleh Karl Marx. Esai–esainya menjelaskan dengan baik bagaimana kapitalisme menghancurkan elit feodal. Para elit feodal Amerika Latin gagal dalam reformasi ekonomi yang mereka lakukan karena mereka menolak untuk menyerahkan pendapatan “uang sewa” yang bisa mereka peras dari posisi yang memiliki hak–hak istimewa. Pendapatan “uang sewa” mendistorsi pasar. Satu cara cepat untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi adalah menghancurkan pendapatan “uang sewa”.

Pilar kedua adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebuah perubahan sangat besar terjadi di Asia. Penerima Nobel Laureate dalam bidang Kimia, Richard Smalley telah memprediksi bahwa tahun 2010, 9% dari semua ilmuwan dan insinyur bergelar PhD akan tinggal di Asia.

Pilar ketiga adalah meritokrasi, yang sudah saya sampaikan.

Pilar keempat adalah faham pragmatis. Definisi terbaik dari faham pragmatis diberikan oleh Deng Xiaoping ketika dia mengatakan tidak masalah apakah seekor kucing itu hitam atau putih; jika ia menangkap tikus, ia adalah seekor kucing yang baik. Dia menggunakan pernyataan sederhana ini untuk menjelaskan kepada orang–orang Cina mengapa Cina harus berganti dari ekonomi yang direncanakan secara sentral ke ekonomi pasar bebas.

Tetapi Deng Xiaoping bukanlah seorang pragmatis yang pertama di Asia. Seorang pragmatis pertama adalah para pembaharu Meiji. Setelah melihat penjajahan total terhadap India yang dilakukan oleh Inggris pada tahun 1850-an dan peristiwa penghinaan terhadap Cina dalam Perang Opium dari tahun 1839–1842, orang Jepang tahu bahwa mereka juga akan dijajah atau dihina jika mereka tidak berubah. Maka para pembaharu Meiji asal Jepang pergi keluar dan mencontoh praktek–praktek terbaik dari Barat.

Cerita terbesar tentang Asia yang belum diberitakan adalah betapa banyaknya orang Asia yang dengan suksesnya mencontoh praktek Jepang ini yaitu mengadaptasi dari yang terbaik. Lebih awal saya telah memuji orang Korea Selatan yang berhasil dalam pembangunan. Satu rahasia yang sedikit diketahui orang tentang keberhasilan orang Korea Selatan adalah bahwa orang Korea Selatan memprakarsai keberhasilan mereka dengan mencontoh orang Jepang. Alasan mengapa rahasia ini sedikit diketahui orang adalah karena orang Korea Selatan menjadi sangat marah jika anda memberi kesan bahwa mereka telah mencontoh orang Jepang. Saya menemukan ini ketika saya menulis sebuah esai di majalah kapur dengan menyebutkan fakta ini. Tanggapan yang saya dapatkan adalah luapan kemarahan dalam bentuk email dari orang–orang Korea Selatan yang mencela saya. Dihadapkan pada persaingan yang kuat antara orang Korea dengan orang Jepang ini, saya berpikir, adalah suatu keputusan terbaik yang diambil oleh Dr. Mahathir untuk menyerahkan kontrak, untuk membangun satu menara dari menara–menara Petronas untuk mempertandingkan tim Korea dengan tim Jepang. Hasilnya sungguh luar biasa menakjubkan.

Pilar kelima adalah budaya damai. Sesuatu yang luar biasa tentang Asia Timur adalah bahwa meskipun perang–perang terbesar sejak Perang Dunia II dipertarungkan di Asia Timur (Perang Korea, Perang Vietnam dan Perang Sino – Vietnam), tidak terdengar suara senjata–senjata lagi sejak tahun 1980.

Pilar keenam adalah aturan hukum. Tak akan ada ekonomi modern yang dapat berfungsi dengan baik jika tanpa aturan hukum yang jujur dan adil. Para penanam modal asing membutuhkannya. Begitu pula dengan perdagangan internasional. Inilah sebabnya mengapa China sekarang menghasilkan lebih banyak hakim yang terlatih dengan baik dibandingkan dengan negara lain manapun. Tetapi kasus Cina juga menggambarkan kesulitan yang maha besar untuk secara sepenuhnya mengimplementasikan aturan hukum. Secara turun–temurun, sebagian besar masyarakat Asia telah memiliki pemerintahan oleh hukum, tetapi bukan aturan hukum. Oleh karena itu, kaisar mengeluarkan surat perintah tetapi tidak dibatasi oleh surat perintahnya. Cina memiliki masyarakat yang modern tetapi sementara dalam teori para anggota CCP mendapat peraturan hukum yang sama seperti anggota biasa, namun dalam prakteknya mereka sering tidak melakukannya. Hal ini tidak seperti Amerika dimana bahkan Presiden dan Senator pun dapat dituduh maupun dipecat.

Untungnya, banyak anggota CCP jujur. Jika mereka tidak jujur, ekonomi Cina tidak bisa tumbuh dengan begitu cepat. Bagaimanapun juga, dalam pemeriksaan yang lama, baik Cina maupun masyarakat Asia lainnya dapat hanya mengandalkan kejujuran. Kita perlu mengadopsi sistem Barat tentang aturan hukum, bukannya diatur oleh hukum, jika kita ingin sukses. Andrew Mclntyre dan Douglas Ramage juga telah mengatakan bahwa Presiden SBY “telah memainkan peranan kepemimpinan yang lebih besar daripada pendahulunya dalam memberantas korupsi. Kebijaksanaan dan semangatnya telah menciptakan pusaran penegakan hukum dan kejujuran dalam berpolitik”. Inilah salah satu alasan mengapa peraturan hukum dibutuhkan: untuk mencegah dan membasmi korupsi.

Pilar yang ketujuh dan terakhir adalah pendidikan, tetapi dalam beberapa cara, pilar ini adalah yang paling penting. Tanpa pendidikan–dan yang saya maksudkan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi – tak akan ada masyarakat yang dapat berhasil. Satu alasan mengapa Cina dan India berada di antara masyarakat Asia yang paling sukses adalah bahwa mereka memiliki jumlah mahasiswa terbesar yang belajar di universitas–universitas Amerika. Dalam tahun 2006–2007, Cina memiliki 68.000 mahasiswa yang belajar di Amerika Serikat dan India memiliki 83.000 mahasiswa.

Kesimpulannya, ijinkan saya meringkas implikasi dari apa yang telah saya sampaikan untuk masa depan masyarakat ASEAN, termasuk Indonesia dan Singapura. Saya bermaksud menyimpulkannya dengan tiga resep khusus untuk memperhatikan pembangunan nasional:

Resep pertama adalah membangun sebuah kontrak sosial / perjanjian menang–menang antara elit yang memerintah dan rakyat. Inilah sebabnya mengapa Jepang, Cina, India, dan empat macan tadi bisa sukses. Ketiadaan perjanjian sosial seperti ini juga menjadi penyebab mengapa masyarakat Amerika Latin tidak bisa sukses. Di dalam banyak masyarakat Amerika Latin, para elit ingin melekat pada pendapatan ‘uang sewa’ mereka untuk menjamin bahwa posisi istimewa mereka tidak tertandingi. Oleh karena itu, Shaukat Aziz ataupun Bill Gates tidak dapat muncul ataupun sukses jika berada dalam sebuah setting feodal seperti itu.

Poin utama untuk ditekankan disini adalah bahwa ini adalah kepentingan elit yang memerintah untuk memperkenalkan meritokrasi di dalam perjanjian sosial yang baru. Ketika ratusan dari jutaan otak baru memasuki pasar, ekonomi menjadi lebih besar dan masyarakat menjadi lebih stabil secara sosial dan politik. Ketika orang–orang pada level dasar percaya bahwa masyarakatnya menawarkan kesempatan–kesempatan bagi mereka untuk maju, anda juga akan mengalami kejahatan yang lebih sedikit. Ketika saya berada di Amerika Latin, saya secara eksplisit diingatkan bahwa saya sebaiknya tinggal jauh dari daerah kumuh. Tetapi ketika saya berada di Mumbai, India lebih awal dalam bulan ini, anak laki–laki saya yang paling muda dan saya pergi mengikuti tur dengan ada pemandu wisatanya, jalan–jalan melalui daerah kumuh terbesar di kota ini, yaitu daerah kumuh Dahravi. Rasanya aman. Orang–orangnya sibuk bekerja. Anak–anak belajar di sekolah. Dan jika perjanjian sosial yang telah dibuat berjalan dengan baik, maka orang akan keluar dari daerah–daerah kumuh itu di masa depan.

Resep yang kedua adalah membangun kepercayaan bahwa kita bisa sukses. Sebagai seorang anak kecil, saya tumbuh di Singapura yang saat itu berada di bawah pemerintahan penjajahan Inggris. Salah satu dari pengaruh yang paling jahat dari pemerintahan penjajah adalah bahwa pikiran–pikiran kita dijajah.

Oleh karena itu kita menjadi percaya bahwa orang Eropa secara alami lebih tinggi daripada orang Asia. Kepercayaan mental terhadap supremasi orang–orang Eropa dilanjutkan lama setelah kemerdekaan politis.

Saat ini, kita mempunyai sebuah pembalikan yang luar biasa. Orang–orang muda dunia yang paling optimis adalah orang–orang muda asal India. Sementara banyak dari mereka masih miskin, mereka yakin bahwa hari esok mereka lebih baik daripada hari ini. Secara berbeda, ketika saya melakukan perjalanan ke Eropa, banyak orang mudanya yang tidak yakin bahwa hari esok mereka akan lebih baik daripada hari ini.

Sekitar satu tahun yang lalu, koresponden dari the International Herald Tribune di Mumbai, Tn. Anand Giridharadas, menghubungi saya. Beliau bertanya kepada saya apakah ada terlalu banyak kehebohan (hype/hyperbola) di India. Saya mengatakan bahwa selalu lebih baik memiliki kehebohan daripada tidak memilikinya. Coba saja kita bayangkan bagaimana berbedanya kita memandang masa depan dari Amerika Latin dan Afrika, jika kita dapat menghasilkan kehebohan yang sama di Amerika Latin dan Afrika seperti kehebohan yang kita miliki di India saat ini.

Kehebohan adalah suatu tanda akan harapan. Kita sebaiknya membangun jenis kehebohan yang sama di ASEAN. Untuk melakukan hal ini, kita harus percaya bahwa kita bisa berhasil.

(III) Resep yang ketiga adalah berfokus kepada kaum muda. Biarlah saya jelaskan mengapa. Ada sebuah peribahasa Arab yang mengatakan bahwa dia berbicara tentang kebohongan masa depan, bahkan ketika dia memberitahu tentang kebenaran. Peribahasa ini benar. Kita tidak dapat meramalkan masa depan. Tetapi setidaknya ada satu rasa hormat dimana di dalamnya kita bisa membuat ramalan–ramalan yang meyakinkan tentang masa depan; jika kita dapat mengukur jumlah salju yang jatuh di Pegunungan Himalaya setiap musim dingin, kita dapat meramalkan tingkatan–tingkatan banjir di Sungai Gangga karena salju yang telah jatuh akan menentukan tingkatan banjir dalam waktu enam minggu.

Di Asia, kita melihat salju demografik di atas tanah dalam bentuk kaum muda di negara kita. Jika kita bisa mendidik kaum muda dan mempersiapkan mereka untuk dunia yang sangat berbeda di kemudian hari, kita memiliki prospek yang bagus untuk menciptakan suatu masa depan yang baik. Tetapi bila kita gagal untuk mendidik kaum muda kita, kita akan menjamin bahwa tidak akan ada peningkatan dalam standar kehidupan kita. Oleh karena itu, bila kita menginginkan suatu masa depan yang besar, kita harus menanam modal pada kaum muda : pendidikan, pendidikan, pendidikan. Disini, Indonesia telah mempunyai beberapa cerita sukses yang layak untuk disebutkan. Sementara di India hanya 76% anak–anak yang menyelesaikan pendidikan dasarnya, di Indonesia 91% anak–anak menyelesaikan pendidikan dasarnya, meskipun India menghabiskan 7.2% dari GNPnya pada pendidikan dasar, sementara Indonesia hanya menghabiskan 3.2%. Singkatnya, Indonesia telah meletakkan beberapa batu pondasi yang baik untuk area ini.

Maka, kesimpulannya, tiga resep ini adalah Perjanjian Sosial, Kepercayaan, dan Orang Muda. Tolong ingat selalu akan ketiga resep ini dengan singkatan SBY (Social Contract, Belief, Youth).Terima Kasih.

Posted by: aakuntoa | September 24, 2008

Politik Gelonggongan

Oleh AA Kunto A

Kasus daging gelonggongan, menjelang Lebaran ini, kembali menyeruak ke permukaan. Di berbagai daerah ditemukan adanya daging sapi dan ayam yang nyata-nyata disuntik air supaya tampak lebih gemuk dari ukuran sebenarnya. Jangan salah, modus serupa juga merebak di “pasar politik”. Dan tidak kalah membahayakannya!

Manipulasi pedagang, ekspektasi pembeli

Apa yang melatari para pedagang melancarkan trik menggelonggong daging jualannya? Keuntungan tinggi. Itu saja. Daging gelonggongan yang dijual lebih murah dari daging normal akan menghasilkan keuntungan yang lebih dengan harapan pembeli akan memilih belanja daging kelas rendah ini.

Mengapa muncul menjelang Lebaran? Hukum ekonomi sederhana saja. Bahwa menjelang Lebaran, kebutuhan akan daging dan aneka kebutuhan pokok lain sangat melonjak. Lebaran adalah peristiwa besar bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Silaturahmi keluarga dan berbagai acara halal bi halal, yang dilakukan nyaris serempak dalam sepekan, tentu membutuhkan persediaan barang yang memadahi. Ketika persediaan tidak sebanding, bahkan lebih kecil, dari permintaan, terjadilah rebutan untuk memperolehnya.

Celah inilah yang dipakai oleh pedagang curang. Mereka menangkap potensi ketidakjelian pembeli dalam mendapatkan barang. Pembeli berada dalam posisi yang lemah. Tidak punya banyak pilihan. Situasi seperti ini dimanfaatkan pedagang untuk mengelabuhi pembeli. Menggelonggong daging adalah cara mengelabuhi yang menurut mereka bisa mengecoh pembeli yang tidak jeli.

Dalam situasi serba susah seperti sekarang, tawaran harga daging yang lebih murah dari harga pasar tentu saja menggiurkan. Tidak hanya perkara daging. Perkara barang-barang kebutuhan pokok lainnya terlebih. Pembeli tentu akan berusaha menekan pengeluaran supaya tetap bisa memenuhi kebutuhan. Yang mereka pentingkan adalah mendapatkan barang, bukan soal kualitas. Klop sudah.

Manipulasi politisi, ekspektasi konstituen

Demikian pula di arena politik. Menjelang pemilihan umum, banyak partai yang menyuntiki dirinya supaya tampak lebih cantik, lebih proper, lebih merakyat, dan lebih populer.

Suntikan yang paling kentara adalah menempatkan artis dan kalangan selebritas, entah sekadar sebagai juru kampanye atau menjadi calon legislatif sekaligus. Mereka dijadikan gincu, pemoles penampilan partai yang kusam. Supaya penampilan partai kelihatan lebih segar, lebih kinclong.

Model gelonggongan lain yang tak kalah jadi bahan pergunjingan adalah munculnya kader-kader dadakan, seperti pensiunan militer, bekas pembesar partai lain yang tersingkir, atau aktivis-aktivis yang populer di media. Pergunjingan meruncing karena kader karbitan seperti ini biasanya akan langsung mendapatkan posisi tinggi di jajaran pengurus.

Sedangkan, gelonggongan yang sangat halus berupa pendomplengan kader-kader partai yang tidak pernah berbuat apa-apa selama ini. Mereka duduk di parlemen tetapi keberpihakannya kepada konstituen amat lemah, bahkan tidak ada sama sekali. Mereka adalah politisi yang manipulatif, yang tidur selama masa tugas, dan baru nongol menjelang pemilu. Supaya terpilih lagi, mereka akan memoles diri seolah-olah sudah banyak berbuat untuk konstituen. Menjadi rajin berkunjung ke daerah pemilihan, gencar beriklan di media massa, dan sekonyong-konyong jadi ramah pada wong cilik.

Apa yang melatari politisi melancarkan trik menggelonggong partainya? Sama saja. Harga jual dan keuntungan tinggi. Supaya dipilih. Sesaat saja.

Model-model penggelonggongan semacam itu tentu saja menimbulkan resistensi di dalam tubuh partai. Mereka yang merasa telah ikut andil membesarkan partai akan merasa disingkirkan, tidak dihargai. Perasaan terbuang seperti ini bakal menyebar seperti bakteri, menyebabkan partai mengalami pembusukan dari dalam. Fungsi partai sebagai wadah penggodogan politisi pun gagal.

Sayangnya, sebagian di antara kita masih ada yang justru doyan gaya politik gelonggongan seperti ini. Sebagian dari kita gampang kagum pada sosok politisi yang pintar pidato, yang populer di media. Kita senang pada kampanye yang meriah, yang penuh joget-joget, namun enggan terlibat dalam gerakan politik praktis di luar masa-masa pemilu. Sebagian dari kita tampaknya justru menikmati diri sebagai masa mengambang. Yang berpolitik menjelang hari raya.

Cermat beli daging, selamatkan demokrasi

Lantas, bagaimana kita sebaiknya bersikap? Cermat dan hati-hati. Sebagaimana berhati-hati dalam membeli daging, dalam berpolitik pun semestinya demikian. Yang kudu hati-hati bukan hanya konstituen, melainkan juga politisi partai itu sendiri. Bagi konstituen, kekeliruan dalam memilih partai akan menyebabkan mereka mendapati kebijakan-kebijakan publik yang jauh dari janji saat kampanye.

Sedangkan bagi politisi, tipu muslihat model demikian tidak akan menguntungkan dalam jangka panjang. Kelak, konstituen bakal tahu juga kualitas mereka yang sebenarnya. Sebagaimana sekarang kita paham betul, politik di negeri ini hanya berkutat di seputar janji. Partai politik tidak menggerakkan mesinnya secara optimal dalam pemberdayaan masyarakat sipil. Hanya ketika menjelang pemilu saja mesin itu bekerja.

Terhadap cara kerja partai politik yang seperti itu, kita harus waspada. Tidak akan ada perubahan apa pun yang digerakkan oleh partai-partai gelonggongan, selain perubahan penampilan yang syarat akan pencitraan belaka. Masih ada cukup waktu bagi kita, sebelum 2009 nanti, untuk menimbang-nimbang betul mana mesin politik yang benar-benar akan mengusung bangsa ini menuju kesejahteraan, dan mana mesin yang bekerja untuk dirinya sendiri. Dengan kesungguhan menimbang dan menilai, bahaya pembusukan demokrasi akibat politik gelonggongan bisa kita cegah.

AA Kunto A, Pengelola Teras SocioLook, tinggal di Yogyakarta

Categories